Mar 19, 2012

Catatan dari kampus Ganesha #2

Pada tulisan sebelumnya  telah saya sebutkan 6 hal yang menjadi kekurangan mahasiswa Kimia UIN tapi tidak bagi mahasiswa kimia ITB. Keenam hal tersebut, insyaAllah akan saya paparkan dalam 6 seri tulisan, dan ini adalah seri pertama.....

Mahasiswa Kimia UIN Kurang pede, tidak punya visi, dan takut bermimpi…!!
Beberapa diantara kita atau mungkin sebagian besar diantara kita memilih Kimia UIN SuKa tidak sebagai pilihan pertama... tp sebagai pilihan terakhir setelah gagal diterima di kampus yang lebih elit, seperti UGM, ITB, atau yg lainnya. Diakui atau tidak..., kegagalan itu menjadikan kita minder bahkan merasa kerdil saat berhadapan dengan teman-teman yang berhasil diterima di kampus-kampus tersebut. Efeknya menjalar pada motivasi dan semangat belajar kita yang lemah, tidak ada keinginan untuk berprestasi, bahkan berujung pada kegelisahan saat kita harus menyaksikan bahwa kampus ini, Kimia UIN SuKa masih punya banyak kekurangan.

Memang sangat menyedihkan.., karena kegelisahan itu menjadikan kita mahasiswa tanpa arah, mahasiswa tanpa perencanaan, dan mahasiswa tanpa visi. Kita pasrah lalu membui diri dengan kekurangan-kekurangan tersebut. Lebih menyedihkan lagi.., status sebagai mahasiswa kimia tidak menjadikan kita bangga lalu bermimpi dengannya. Kita kuliah asal kuliah, lulus asal lulus, dapat ijazah lalu melamar pekerjaan…, pekerjaan apa saja yang mau menerima kita, karena kita telah lajur mengkerdilkan diri sendiri.., kita hanya ingin menjadi penonton, yang duduk bersila menyaksikan orang-orang hebat berjaya..!!!

Demikianlah keadaan kita…, yang sangat kontras dengan kebanyakan mahasiswa kimia ITB. Bayangkan, seorang mahasiswa kimia ITB berani bermimpi menjadi penerus Jabir bin Hayyan, hendak mengembalikan romantisme kejayaan sains umat ini. Ini adalah ironi yang pantasnya  mengusik harga diri kita, karena seharusnya tujuan mulia itu adalah mimpi kita..!!??,  atau bahkan lebih layak jadi tugas kita!!??

Adalagi mahasiswa kimia ITB yang sangat mengenal dan mengagumi Ahmed Hassan Zewail, muslim berkebangsaan Mesir, peraih nobel kimia tahun 1999 berkat teori femtokimianya. Tidak hanya mengaguminya, mahasiswa ini mampu memahami dan menjelaskan teori tersebut dengan sangat baik. Sekarang bandingkan, adakah mahasiswa kimia UIN yang mengenal sosok ilmuwan ini, termasuk teori-teorinya? Jika tidak ada, maka ini ironi kedua untuk kita !!!

Apakah karena kita kurang cerdas?
Memang harus diakui, dalam hal inteligensi atau kecerdasan, mahasiswa kimia ITB sedikit lebih baik dibandingkan dengan kita. Karena kalo kita yang lebih baik, tentu kita yang jadi mahasiswa di kampus itu. Tapi, apakah memang kecerdasan itu yang menjadi syarat mutlak bagi seseorang untuk boleh bermimpi? Yang kurang cerdas, sebaiknya pulang kampung nyabitin rumput, lalu mandiin kerbau, habis itu duduk manis depan tivi menonton orang-orang cerdas beraksi menaklukkan dunia??

Saya yakin, kita semua sepakat berkata tidak..!!, karena kecerdasan memang bukanlah syarat mutlak bagi seseorang untuk meraih sukses. Sangat banyak contoh tentang hal ini, kita kenal Mark Zuckerberg yang sukses dengan facebooknya, Richard Feynman yang sukses dengan teori kuantum modernnya, atau Compton Crick yang sukses dengan struktur DNA-nya. Mereka semua adalah orang hebat yang tidak terlalu cerdas, IQ-nya hanya 115, jauh dibawah Einstein yang IQ-nya mencapai 167 atau bahkan Wolfgang yang mencapai 210. Tapi, ke”bodoh”an yang ada pada diri mereka tidak menghalanginya untuk bermimpi. Mereka punya visi, mereka punya cita-cita, lalu mereka berusaha keras, menghabiskan banyak waktu untuk belajar, hingga akhirnya mereka meraih mimpinya.

Mereka menjadi contoh bagi kita bahwa usaha dan belajar adalah cara yang paling tepat untuk mengatasi ke”bodoh”an lalu meraih sukses!!! (tentu dengan tidak menafikan kuasa Allah).

Teman-teman…
Sebenarnya, beberapa mahasiswa kimia UIN telah mempraktekkan konsep tersebut. Mereka adalah Mas Gani, dkk yang juara III LTIM tahun 2007; Mas Aziz yang pernah lima besar olimpiade Kimia tahun 2009; Mas Nuryanto yang sukses LKTI UIN tahun 2009; Mas Ihya, dkk yang juara II LTIM tahun 2010, atau Mas Irpan dan Mas Mifta yang akan berkompetisi di final LTIM November nanti. Meski masih level Jogja, prestasi mereka ini layak dibanggakan karena saingannya adalah mahasiswa dari kampus level nasional seperti UGM, UNY, UAD, dan UII. Mengalahkan mahasiswa dari kampus-kampus ini sama dengan mengalahkan banyak mahasiswa dari kampus lainnya di Indonesia.

Selain teman-teman mahasiswa, beberapa alumni juga telah memberi contoh sebagai kimiawan yang telah memulai karirnya. Diantara mereka ada yang menjadi dosen, pengajar, laboran, dan peneliti (detailnya lihat disini)

Mereka, rekan-rekan mahasiswa dan alumni, telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara melawan ketakutan dan kegelisahan yang juga pernah menghantui mereka…., dan ternyata senjata utama mereka adalah motivasi dan percaya diri.

Mencari solusi…
Saya rasa, beberapa contoh di atas cukup untuk membuktikan bahwa kecerdasan bukanlah syarat utama untuk meraih sukses. Orang-orang yang terlahir dalam keadaan “bodoh”, asalkan memiliki motivasi dan percaya diri, lalu merencanakan dan membangun visi hidupnya, maka dia akan diijinkan meraih sukses. Prinsip ini berlaku dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun. Tak peduli, ia adalah mahasiswa ITB atau kampus yang lebih hebat lagi.., tanpa sikap ini mustahil ia bisa meraih sukses. Nasibnya akan sama saja bahkan bisa lebih parah, karena biaya kuliah mereka jauh lebih mahal, he…^^

Akhirnya.., untuk rekan-rekan mahasiswa dan alumni kimia UIN...: “kampus dan orang-orang yang mengurus kampus ini memang punya kewajiban untuk membantu kita meraih sukses, tapi ingat..!! hanya membantu memberikan cara bukan hasilnya. Hasilnya kita peroleh jika kita mau berproses dengan cara itu..!!!, dan cara yang pertama adalah meremuk seremuk-remukny dan menendang sejauh-jauhnya sikap “kurang pede, tidak punya visi, dan takut bermimpi…!!!”

…(bersambung, insyaAllah)
0

0 komentar:

Post a Comment