Mar 1, 2012

Saat tugas dan ujian tidak penting

Aku bukan termasuk mahasiswa yang semangat dan rajin belajar. Aku hanya akan belajar jika ada tugas, atau akan mengikuti ujian. Masih lebih mending sih, karena aku masih menganggap tugas dan ujian itu penting, minimal sebagai alasan buatku untuk belajar. Bagi aku, tugas dan ujian berkontribusi positif buat studiku, jadi tidak ada protes jika ada tugas dan ujian, asal tidak kebanyakan.

Sampai hari kemarin aku masih menganggap semua mahasiswa memiliki anggapan yang sama denganku. Jika ada ujian mereka akan meluangkan waktu khusus untuk belajar, berharap bisa menaklukkan soal-soalnya. Atau jika ada tugas dari dosen, mereka akan ke perpustakaan untuk mencari referensi, diskusi kelompok, atau yang sejenisnya demi menyelesaikan kewajibannya sebagai mahasiswa.

Tapi asumsi itu berubah, saat aku magang di kelas dosenku. Karena magang, tugas aku bukan lagi memperhatikan teori yang disampaikan oleh dosen, tapi memperhatikan cara beliau mengajar, materi-materi yang beliau garisbawahi untuk mahasiswa, dan terkadang aku memperhatikan respon mahasiswa terhadap kuliah, semangat mereka mengerjakan tugas, persiapan mereka mengikuti ujian, bahkan terkadang memperhatikan catatan yang mereka buat. Singkatnya, tugas magangku adalah sebagai pengamat.

Terkadang, untuk melengkapi hasil pengamatannku aku harus meluangkan banyak waktu untuk bermain bersama mereka, ngobrol, dan diskusi. Bukan hanya di kampus, dimana saja, di lab, di kosan, di warung kopi, di lapangan futsal, di rumah dosen atau tempat lainnya. Aku ingin tahu sejauh mana semangat belajar mereka dan cara mereka membagi waktu, termasuk cara mereka mengerjakan tugas, laporan praktikum, dan persiapan mengikuti ujian.
Hasilnya?.., jauh dari yang aku bayangkan sebelumnya:
  1. Aku membayangkan, jika dosen akan memberi tugas, mereka akan bertanya tugasnya apa, cara ngerjaiinya gimana, pake referensi apa, kerja bareng ato sendiri-sendiri aja, dikumpul kapan, atau pertayaan lainnya. Tapi ternyata tidak, beberapa malah protes, kebanyakan tugas katanya..
  2. Jika tugas itu jadi, aku bayangkan mereka akan saling mengingatkan tugas itu, menawarkan kerja kelompok, ke perpustakaan kampus atau kampus tetangga, browsing internet, koreksi silang atau yang lainnya. Tapi hingga hari H, ternyata masih ada yang lupa kalo ada tugas yang harus dikumpul, bahkan ada yang tinggal nyontek punya teman yang udah selesai aja, masih aja malas, gak peduli ngumpul tugas ato tidak.
  3. Terkadang pula aku membayangkan (lebih tepatnya berharap), jika mereka tidak sempat mengumpulkan tugas, misal karena sakit atau kalo nilai tugas mereka tidak sempurna maka mereka akan berusaha meminta tugas pengganti. Tapi ternyata tidak, mereka biasa-biasa aja, pura-pura tidak tahu.
  4. Aku membayangkan jauh sebelum ujian beberapa diantara mereka merangkum kembali catatan yang diberikan oleh dosen dikompilasikan dengan text book agar lebih rapi, lengkap, dan mudah dipahami, sehingga saat akan ujian mereka tidak lagi “keringatan” belajar hingga kebut semalam suntuk. Tapi ternyata, sama sekali tidak ada catatan.
  5. Jika kasusnya seperti ini, tidak punya catatn, aku berharap mereka mau meminjam catatan temannya kalau bisa dikopi dulu, tapi ternyata tidak juga. Daripada ngopi mending buat pulsa, bisa facebookan lagi..
  6. Aku membayangkan sehari sebelum ujian, mereka akan meluangkan waktu khusus untuk belajar mengulang materi yang sudah disampaikan, kalau perlu beberapa bagian berusaha mereka hafal. Tapi ternyata, jangankan belajarnya, jadwal ujian aja kadang mereka lupa. Mereka hanya tahu hari ini ada ujian, ujian apa? Mereka tidak peduli, pokoknya mereka bisa datang, itu sudah cukup.
  7. Aku membayangkan sehari sebelum ujian, kegiatan yang paling penting buat mereka adalah belajar mengulang materi, lalu istirahat cukup, tidur tidak sampai larut, atau hal-hal lain yang mendukung persiapan ujian. Tapi ternyata tidak, mereka malah sibuk merencanakan kegiatan ngumpul-ngumpul, ngobrol, nonton film, lalu begadang melewati pergantian hari.
  8. Aku membayangkan, sebelum ujian dimulai mereka berdoa dulu, berharap Allah membantunya dan memberi keberuntungan…. Kalo ini aku tidak tahu, karena udah urusan yang tidak tampak, tapi aku yakin mereka melakukannya.., karena ternyata setelah ujian mereka lulus juga.
  9. Aku membayangkan setelah ujian selesai mereka akan berdiskusi membahas soal yang sudah diujikan, apakah jawaban mereka benar atau salah, jika salah, mereka cari yang benar. Menurutku cara ini sangat efisien untuk memahami karena saat itu rasa ingin tahu sangat besar. Tapi ternyata “sorry ya.., aku gak bisa, udah ada janjian” atau “yang berlalu biarkan berlalu” atau “kok pusing, kan bisa ngulang tahun depan”. Archhh.. (>_<
  10. ....akhirnya aku bosan mencocokkan bayanganku dengan kenyataan (+_+)

Aku berharap suatu hari nanti, semua yang aku bayangkan tentang cara mereka mengolah tugas dan ujian sebagai bagian dari kuliah yang bermanfaat akan menjadi kenyataan. Harapan ini sangat aku yakini akan menjadi kenyataan, karena aku akan selalu bersama mereka. (^ _^)V

Teman-teman.., sampai jumpa tahun depan, InsyaAllah…

(Yogya, April 2009)
0

0 komentar:

Post a Comment