Mar 1, 2012

Nilai yang ditambah

Ujian dan nilai adalah dua hal yang tidak mungkin dipisahkan, karena hasil dari ujian adalah nilai. Jika seorang mahasiswa mengerjakan soal dengan baik, tentu dia akan memperoleh nilai yang baik, sebaliknya mahasiswa yang mengerjakan soal apa adanya akan memperoleh nilai yang juga apa adanya. Semua mahasiswa dan dosen tahu tentang hal ini, so tiap mahasiswa diharapkan bisa memperkirakan sendiri nilai yang ia akan peroleh setelah mengikuti ujian. Apakah akan dapat A, B, C, D, atau malah tidak lulus ujian. Iya,kan??

Aku sering melakukan hal tersebut selama kuliah dulu. Tiap kali ujian selesai, biasanya aku mengecek kembali jawaban yang telah aku tulis di lembar jawaban dengan catatan kuliahku, text book, atau bertanya langsung pada dosennya. Hasilnya, aku akan tahu mana jawaban yang benar dan mana jawabannku yang salah. Dengan cara demikian aku bisa mengkalkulasi nilai-nilaiku hingga bisa memperkirakan apakah aku dapat A, B, atau C (sorry ya, aku tidak pernah memperkirakan nilaiku dapat D, hehe..).
Tapi yang aku dapatkan ternyata tidak terduga. Setelah sabar menunggu nilai diumumkan oleh dosen, aku mencocokkan nilaiku dengan nilai di pengumuman itu.
Hah.., masa sih??, nggak mungkin nilaiku seapik ini…,
Ini mah terlalu keren buat aku..!!”

Ini reaksi pertama aku saat masih semester satu, tidak percaya dengan nilaiku yang lumayan tinggi, bahkan cumlaude. Padahal, saat itu aku memperkirakan nilai IPK-ku tidak menembus angka 3. Aku bahkan sudah mempersiapkan banyak alasan jika kena marah ama kakakku, tapi.., ya…, alhamdulillah aja ahh!!. Aku mencoba untuk meyakinkan diriku bahwa aku memang layak untuk mendapat nilai itu, demi rasa percaya diri yang mengebu-ngebu.
Lanjut ke semester dua, aku bertekat untuk memperbaiki nilai-nilaiku. Nilai yang kemarin yang kelihatan bagus itu, aku anggap hanya keberuntungan belaka. Semester ini, aku harus belajar keras agar nantinya bisa bangga dengan nilai-nilaiku. Sama seperti semester sebelumnya, setelah ujian akhir aku mencocokkan lagi nilai yang aku hitung sendiri dengan nilai di pengumuman, dan hasilnya… wow.., cumlaude lagi!! Gila, darimana nilai-nilai menggiurkan ini?
Tak ada jawaban, nilai-nilai menggiurkan itu terus berlanjut hingga aku semester 3, bahkan semakin luar biasa. Kuakui aku sangat bangga dan senang dengan nilai-nilai itu, tapi tetap aja aku merasa tidak nyaman. Aku yakin cara menghitung nilai yang aku lakukan pasti beda dengan yang dilakukan oleh dosen-dosenku. Setelah bertanya pada kakak kelas, asisten praktikum, dan dosen-dosen, akhirnya aku tahu bahwa nilai-nilai yang bagus itu adalah nilai yang disesuaikan dengan keadaan kelas.
Nilai A didapatkan oleh mahasiswa yang bernilai paling tinggi di kelas, meski rata-rata nilainya kurang dari 95-100. Nilai B, C, D dst akan disesuaikan. Bahkan terkadang, jika interval nilai yang tertinggi jauh di atas yang lain, maka nilai yang bersangkutan akan dikeluarkan dari range nilai kelas, lalu intervalnya disusun ulang. Ooo.., gitu tho, pantesen nilaiku selama ini serasa tidak wajar.
Selama kuliah, cara mengkonversi nilai tersebut telah menjadi rahasia umum di kampus kami, bahkan hingga sekarang. Hampir semua mahasiswa tahu. Ada beberapa mahasiswa yang lihai menjadikannya sebagai pertimbangan ketika akan mengulang mata kuliah tertentu, yakni tidak satu kelas dengan orang yang dikenal pintar. Adapula mahasiswa yang menjadikannya sebagai alasan untuk tidak terlalu serius belajar, tho nilai bisa diatur. Hanya sedikit sekali mahasiswa yang mampu melihat sisi negatif sistem konversi nilai seperti itu.
Mari kita lihat, dan teropong dengan baik!
Nomor 1 – 6 adalah catatan untuk para dosen, paragraf selanjutnya adalah catatan untuk para mahasiswa.
  1. Jika kita ingin bersaing dengan kampus lain, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah tahu posisi kita diantara kampus-kampus tersebut. Posisi tersebut tentu berdasarkan standar yang dipakai bersama. Jika kita menggunakan standar sendiri, maka tentu mahasiswa cumlaude di kampus sendiri belum tentu cumlaude di kampus lain. So, di dunia kerja yang terbaik belum tentu mahasiswa yang cumlaude tapi mahasiswa dari kampus mana dulu?
  2. Tidak ada masalah, jika mahasiswa yang cumlaude tersebut memang hanya cumlaude standar kampusnya, tapi bagaimana jika dia memang benar-benar mahasiswa yang cerdas dan punya potensi? Haruskah kecerdasan dan potensinya itu sia-sia hanya karena lulus dari kampus yang tidak berstandar baku.
  3. Jika kita menggunakan standar penilaian yang baku bukan konversi kelas, mungkin akan ada banyak mahasiswa yang ketahuan tidak layak untuk lulus, tapi mungkin juga, bahkan sangat mungkin kita menemukan seorang mahasiswa yang mau berusaha keras mencapai nilai tertinggi standar baku tersebut.
  4. Dampak terhadap semangat belajar mahasiswa sangat mungkin. Ini bisa terjadi pada mahasiswa yang tidak punya waktu untuk belajar, bahkan telah merasa layak tidak lulus (pasrah jika tidak lulus), tapi setelah nilainya dikonversi dengan standar kelas ternyata dia lulus, bahkan nilainya lumayan “bagus”. Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi, tapi jika “iman” mahasiswa ini lemah, yang terjadi adalah “ yang kemarin aja aku gak belajar, tho bisa lulus!!, jadi ngapain belajar”. So, tidak ada efek jera.
  5. Ini juga bisa berdampak negatif pada mahasiswa yang rajin belajar. “Si A aja yang belajarnya kayak gitu bisa dapat B+ masa aku yang udah mati-matian cuma dapat A- “.
  6. Mahasiswa tidak memiliki rasa percaya diri, bahkan mahasiswa yang lulus cumlaude, karena cumlaudenya dia tidak layak disejajarkan dengan cumlaude kampus lain.
Lalu bagaimana kita sebagai mahasiswa menyikapinya cara penilaian seperti ini. Singkat aja adinda.., kualitas kita diakui bukan karena nilai pada ijazah, tapi karena kemampuan yang kita miliki. Terserah adinda.., adinda mau hanya sekedar bernilai bagus atau mau bernilai bagus dan juga berkemampuan bagus.
Tidak salah bernilai bagus, tapi akan salah jika kita bangga dengan nilai bagus itu, bukan bangga pada kemampuan yang kita miliki…, OK ^^
0

0 komentar:

Post a Comment