Popularitas untuk KIMIA UIN SUNAN KALIJAGA sebagai Kado Ulang Tahunnya yang ke-7

Posted By Darlin on Mar 19, 2012 | 12:08 AM

Teman-teman mahasiswa dan alumni kimia UIN SUNAN KALIJAGA yang saya hormati, setengah tahun lagi program studi kita akan berulang tahun yang ke-7. Layaknya, seorang anak kecil tentu ia akan sangat senang jika dihadiahkan sebuah kado istimewa. Pd postingan ini, saya mengajak teman2 smw untuk mempersiapkan kado tersebut. Silahkan baca catatan berikut, kemudian berikan sarannya, apa dan bagaimana cara kita mempersiapkan kadony.
Kalo bisa, undang teman yang lain untuk ikut nimbrung diskusi disini, thx

Arti popularitas bagi Kimia UIN Sunan Kalijaga
Popularitas bagi sebuah perguruan tinggi saat ini merupakan modal yang sangat penting bagi perkembangannya. Fakta telah menunjukkan bahwa perguruan tinggi yang popular dengan prestasi tertentu mampu berkembang dengan sangat cepat meninggalkan perguran tinggi lain yang tidak memilikinya. Popularitas yang dimaksud berkaitan dengan hal-hal positif seperti lokasi yang aman dan strategis, fasilitas dan manajemen pengelolaan yang teratur, biaya kuliah yang terjangkau, suasana akademik yang berkualitas, dosen dan mahasiswa yang berprestasi, lulusan yang berbobot, serta publikasi ilmiah dan pengabdian masyarakat yang aktif.

 Jika Program Studi Kimia UIN Sunan Kalijaga memiliki komponen-komponen tersebut di atas, maka program studi ini dapat berkembang dengan sangat baik. Kausalitas ini tentu sangat logis, karena popularitas bagi suatu perguruan tinggi menyebabkan perguruan tinggi tersebut memiliki:
1.      peminat mahasiswa baru yang banyak dan berkualitas
2.      kepercayaan dunia kerja bagi lulusannya
3.      kerjasama riset dan pengabdian masyarakat baik dari pemerintah, swasta, lembaga penelitian, institusi pendidikan, dll
4.      bantuan beasiswa bagi dosen dan mahasiswa
Meski popularitas bukanlah satu-satunya penentu memiliki 4 poin di atas, tapi tentu popularitas dapat memudahkannya.

Jejak 7 Tahun Kimia UIN Sunan Kalijaga
Sejak pertama kali dibuka pada tahun 2004, civitas akademik Kimia UIN Sunan Kalijaga telah memahami pentingnya popularitas tersebut. Berbagai upaya pun telah dilakukan baik oleh manajemen, dosen, alumni, dan mahasiswanya. Misal (mudah-mudahan tidak salah):
  • Manajemen yang berada satu atap dengan Fakultas Sains dan Teknologi memperoleh hasil yang luar biasa yakni telah meraih akreditasi ISO 9001.
  • Beberapa dosen aktif dalam kegiatan penelitian, publikasi jurnal, dan menulis buku.
  • Beberapa alumni (meski belum banyak) mampu bekerja pada bidang yang sesuai dengan disiplin ilmunya, misal di laboratorium, lembaga penelitian, lembaga pendidikan, dan lain-lain.
  • Beberapa mahasiswa pernah meraih penghargaan akademik serta juara lomba penelitian, olimpiade, dan olahraga baik internal maupun antar kampus (meski belum maksimal).
  • BEM-J (Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan) Kimia pernah pula berhasil mengadakan seminar nasional yang mendapatkan pujian dari banyak pihak.
Namun, tetap harus diakui pencapain tersebut di atas belum mampu membesarkan popularitas institusi ini baik jika dibandingkan dengan sesama program studi Kimia UIN se-Indonesia apalagi program studi Kimia kampus-kampus besar seperti UGM, ITB, UI, UNDIP, atau sekedar UNY, kampus tentangga.
Tentu kita semua bertanya dan berpikir tentang ini, karena usia tujuh tahun, bagi sebuah perguruan tinggi bukan lagi usia yang muda. Kimia UIN Sunan Kalijaga tidak boleh lagi menganggap dan dianggap sebagai pendatang baru yang masih belajar mengamati, tapi seharusya telah populer sebagai mitra atau bahkan sebagai “saingan” dalam hal inovasi dan perkembangan ilmu kimia oleh kampus-kampus lain.

Untuk memperoleh popularitas tersebut,
semua civitas akademik institusi ini harus berpikir
mengenai apa yang bisa dilakukan dan bagaimana cara melakukannya!!

Pada diskusi kali ini, kita hanya akan bertukar ide, dan sharing tentang apa yang bisa dan harus dilakukan oleh MAHASISWA. Adapun, oleh pihak manajemen, dosen, dan alumni akan kita diskusikan pada waktu yang lain. Sebelum memulainya saya akan memberikan sedikit pemaparan, silahkan disanggah jika keliru.
Usaha mahasiswa Kimia UIN Sunan Kalijaga memperoleh popularitas tersebut, khususnya dalam bidang ilmiah dan akademik telah dimulai sejak tahun pertama. Namun, hasil yang diperoleh belum maksimal karena:

1.      Salah strategi
Jika diadakan pertandingan olahraga antara orang Indonesia dan orang Amerika, dimana masing-masing negara diberikan kesempatan untuk memilih jenis olahraganya maka bisa ditebak Indonesia akan memilih bulu tangkis dan Amerika akan memilih Bola Basket. Logikanya sederhana, bulu tangkis adalah olahraga yang tidak membutuhkan tubuh besar seperti kebanyakan orang Amerika, justru orang yang berukuran kecil seperti orang Indonesia akan lebih lincah bermain olahraga ini. Sebaliknya, Bola Basket justru membutuhkan atlet yang bertubuh tinggi dan kekar sehingga dapat melakukan blocking, shooting, atau jump shoot dengan baik.
Ilustrasi di atas memberikan contoh pentingnya strategi dalam memenangkan suatu pertandingan. Sebuah tim harus memahami kelebihan dan kekurangan timnya termasuk tim lawan. Strategi ini adalah strategi umum yang harus diterapkan oleh mahasiswa Kimia UIN Sunan Kalijaga untuk “memenangkan pertandingan” meraih popularitas yang kita bahas di atas.
Selama ini, semenjak saya masih kuliah dulu, kita lebih sering mengikuti lomba olimpiade baik tingkat lokal maupun tingkat nasional seperti OSN Pertamina. Lomba ini sangat mengandalkan kecerdasan pesertanya. Bahkan bisa diperkirakan, pemenangnya selalu diraih oleh peserta yang paling cerdas, memiliki IQ yang luar biasa, dan jenius. Jika sang pemenang ternyata bukan dengan kreteria tersebut, maka itu hanya keberuntungan saja, atau mungkin karena diuntungkan.
Mahasiswa kimia UIN Sunan Kalijaga termasuk mahasiswa yang jujur harus diakui, masih kalah berdasarkan kriteria tersebut di atas dibandingkan dengan mahasiswa kimia kampus elit lainnya. Kebanyakan kita masuk UIN karena gagal menembus kampus elit seperti UGM, ITB, UI, UNDIP, atau UNY. Mungkin karena kalah finansial, tapi lebih mungkin karena kalah cerdas sehingga tidak lolos UM kampus elit tersebut.
Belum lagi (ini juga harus diakui), kurikulum yang diperoleh belum yang terbaik, kinerja dosen masih terbatasi oleh beberapa hal, fasilitas belajar belum terlalu membantu, lingkungan kampus yang kurang mendukung, termasuk kost’an mahasiswa yang melemahkan semangat belajar semakin menjustifikasi bahwa intelligence of chemistry kita memang masih kalah dari kampus lain. Kondisi ini menyebabjab kita selalu gagal setiap kali mengikuti lomba olimpiade sains tersebut.
Kita tidak akan pesimis!! Jika banyak jalan menuju roma, maka banyak pula cara mencari popularitas untuk kimia UIN Sunan Kalijaga yang bisa dilakukan oleh mahasiswa. Olimpiade sains kimia hanya salah satu ajang kompetisi antar mahasiswa. Masih banyak ajang kompetisi yang dengannya kita dapat berjaya. Salah satunya adalah lomba penelitian sains, misal PKM-PIMNAS, LTIM, KIA, Indofood Competetion, LPIM-Menpora, Kewirausahan Mahasiswa, IEC, dan lain-lain. Ajang kompetisi ini tidak mengandalkan intelligence of chemistry, tapi mengandalkan creativity of chemistry.
Creativity (kreatifitas) dalam kamus Oxford dijelaskan sebagai sifat yang inventive, imaginative, atau able to create dan dalam KBBI kreatifitas adalah adalah kemampuan untuk mencipta atau daya cipta. Berdasarkan dua definisi ini, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa kreatifitas seseorang tidak ditentukan oleh kecerdasannya tapi ditentukan oleh kemampuan imajinasi dan inventifnya.
Jika persoalannya demikian, maka saya yakin mahasiswa kimia UIN Sunan Kalijaga mampu berjaya pada ajang ini. Apalagi jika kreatifitas tersebut dipadukan dengan visi misi kampus kita, integrasi-interkoneksi sains-Islam, maka kita pasti akan disegani. Perlu diperhatikan bahwa kebanyakan mahasiswa yang sukses di PKM-PIMNAS ternyata bukan mahasiswa yang prestasi akademiknya terbaik di kampus mereka. Jadi untuk sukses sebagai peneliti, mahasiswa kimia UIN Sunan Kalijaga juga bisa!!
Tentu bukan untuk menghalangi teman-teman mengikuti ajang olimpiade. Bagaimanapun juga, ada beberapa diatara kita yang lumayan cerdas, bahkan pernah meraih peringkat kelima olimpiade kimia tingkat DIY tahun 2009. Ajang olimpiade tetap akan kita bina untuk mengasah dan memotivasi teman-teman belajar. Tentu teman-teman dewasa memahami poin ini.

2.      Kurang kompak
Kayaknya saya terlalu halus jika mengatakan “kurang kompak”, seharusnya saya mengatakan “tidak kompak”!! Iya, sama sekali tidak ada keakraban antara mahasiswa kimia, khususnya kakak kelas dengan adik kelasnya, apalagi jika beda angkatannya jauh. Kondisi ini menyebabkan kurangnya komunikasi, diskusi, dan sharing antar mahasiswa. Padahal komunikasi, diskusi, dan sharing adalah syarat mutlak suksesnya suatu komunitas. Tentu yang saya maksud disini adalah komunitas mahasiswa kimia secara keseluruhan, atau lebih tepatnya keluarga mahasiswa kimia UIN Sunan Kalijaga.
Sebenarnya adik-adik kelas kita yang baru masuk adalah mahasiswa yang semangat belajarnya luar biasa, keinginan sukses dan berprestasinya sangat tinggi. Kalian semua pernah merasakannya. Tapi, kalian buta ketika masuk kampus ini, tidak ada yang menuntun. Kalian justru disambut oleh komunitas yang sama sekali tidak atau sangat sedikit membantu proses belajar dan kuliah kalian. Kalian diajari politik kampus, demo, bahkan fanatik dengan komunitas tersebut, fanatik yang tidak pada tempatnya!!
Padahal idealnya, sebagai seorang mahasiswa sains, harusnya komunitas favoritnya  adalah organisasi sains dan kegiatan favoritnya adalah diskusi tentang sains atau melakukan penelitian - bukan demo, intrik politik, dsb, apalagi hura-hura dan pacaran, hehe... Saya yakin, teman-teman paham dengan ini dan ingin menciptakan kondisi ideal ini di kampus kita. Tapi, dengan cara apa jika kekompakan dan keakraban tidak ada, saling menjaga dan memotivasi diacuhkan.
 Keakraban dan kekompakkan membantu kita menyatukan visi dan gerak langkah meraih tujuan. Kita saling mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga memudahkan kita mengatur strategi jika ingin komunitas kita sukses untuk tujuan tertentu. Misal kita ingin membentuk kelompok penelitian, maka anggotanya harus ada yang kreatif, ada yang jago presentasi, jago debat, ada yang tata bahasanya bagus, dan tentu ada juga yang cekatan mengetik.
Dengan kompak dan akrab pula, kita bisa saling melengkapi, meski hanya pinjam buku, sharing file-file kuliah, bagi-bagi info beasiswa, tempat PKL yang asyik, syukur-syukur bisa diskusi tentang kuliah, praktikum, skripsi, atau belajar kelompok, misal kakak kelas mengajari adik kelasnya, dsb. Suasana ini menjadikan kita lebih betah di kampus daripada tiduran di kost atau jalan-jalan ke mall, apalagi kalo gak punya uang, makan gak makan asal ngumpul!! Manfaat kompak dan akrab ini akan terasa juga setelah lulus nanti. Kakak kelas yang sudah sukses bisa membantu mencari pekerjaan, atau mungkin yang sedang lanjut S2 bisa terus menguptade informasi penelitian buat adik-adik kelasnya.
Suasana ini bisa kita wujudkan dengan cara membentuk kelompok penelitian lintas angkatan, kelompok belajar lintas angkatan, atau kalo perlu kita membentuk komunitas keluarga mahasiswa kimia UIN Sunan Kalijaga. Kalo di UGM namanya KMK, kalo di ITB namanya AMISCHA. Tiap hari, jika tidak ada kuliah atau tidak ada tugas atau keperluan di perpustakaan, komunitas ini berkumpul di sekretariatnya. Meski cuma duduk dan ngobrol santai atau ngemil barengan ternyata cukup membuat mereka akrab satu sama lain, hampir tidak jelas kakak dan adik kelas yang mana. Terkadang obrolan mereka diawali dengan obrolan sederhana, misal tentang teman, tentang dosen, lama-lama tentang kuliah, tentang praktikum, dan akhirnya tentang penelitian.
Intinya kekompakan antar mahasiswa termasuk dengan alumni dan dosen akan sangat membantu kita untuk mempersembahkan kado terindah buat program studi Kimia UIN Sunan Kalijaga di hari ulang tahunnya yang ke-7…,  kita tunggu aksi teman-teman semua di LTIM 2011!!

3.      Tidak percaya diri dan kurang motivasi
Tidak yakin bahwa Kimia UIN Sunan Kalijaga bisa menjadikan kita meraih mimpi-mimpi yang pernah dibangun saat masih SMA adalah salah satu alasan kurang bergairahnya kita belajar dan ingin berprestasi di kampus ini. Memang lulusan UGM, ITB, UI atau UNDIP lebih terkenal dan mumpuni dibandingkan dengan kita saat ini, tapi siapa sangka ternyata ada juga diantara mereka yang menganggur dan pada saat yang sama banyak lulusan Kimia UIN Sunan Kalijaga yang bisa mendapatkan pekerjaan layak, bahkan salah satunya bisa berkerja di laboratorium pertanian UGM. Itu berarti, mereka pun mengakui lulusan kita.
Saya tidak mengatakan bahwa lulusan Kimia UIN Sunan Kalijaga sekarang ini secara akademik lebih cerdas dari mereka, saya tetap yakin mereka lebih cerdas. Namun, satu hal yang perlu dipahami, tidak selamanya orang cerdas secara akademik selalu menjadi yang terbaik. So, kecerdasan mahasiswa sana jangan membuat kita takut untuk menyainginya!!
Mas Gani, dkk yang pernah sukses juara III LTIM 2007, Mas Aziz yang pernah sukses lima besar olimpiade Kimia 2009, dan terakhir mas Ihya, dkk yang sukses juara II LTIM 2010 adalah bukti bahwa kita juga bisa menyaingi mereka. Pernah ada teman yang mengatakan: “Itukan cuma tingkat lokal DIY, tidak terlalu istimewa!!”. Dengan mantap saya katakan, “Kalo tingkat lokalnya di NTT, Papua, atau Maluku, maka saya setuju itu memang tidak istimewa, tapi untuk yang ini tingkat lokalnya di DIY, saingannya UGM, UNY, dan UII yang notabenenya adalah saingan nasional. Menang dari kampus-kampus ini sama halnya menang dari kampus lain!!”
Ini hanya persoalan motivasi dan percaya diri. Jangan kita berpikir bahwa kita bisa sukses andai kuliah di UGM, UI, atau di ITB dengan motivasi dan percaya diri yang rendah. Nasib kita akan sama saja, bahkan bisa lebih parah akibat tekanan lingkungan dan biaya kuliah yang membumbung tinggi.
Kita semua sudah jadi mahasiswa dan alumni kimia UIN Sunan Kalijaga. Kampus dan orang-orang yang mengurus kampus ini memang punya kewajiban membantu kita menjadi orang yang sukses, tapi hanya membantu memberikan cara bukan hasilnya. Hasilnya kita peroleh jika kita mau berproses dengan cara itu. Sedikit tips dari saya:
  • Jika lulusan Kimia UIN Sunan Kalijaga mendaftar bekerja di suatu perusahaan bersama dengan lulusan kampus lain, misal UGM dengan nilai yang sama, kemampuan sama, motivasinya sama, dan semuanya sama, kecuali logo kampus di  ijazahnya, maka mungkin yang diterima adalah lulusan UGM. Tapi akan lain ceritanya, jika selain logo ijazah itu lulusan kimia UIN memiliki selembar piagam yang tidak dimiliki oleh lulusan UGM itu, misal pernah meraih emas PIMNAS. Dia akan diterima meski bukan karena logo kampus ijazahnya melainkan karena selembar piagam PIMNASnya.
  • Jika dua orang mahasiswa kuliah di kampus yang berbeda. Si X kuliah di kampus yang akreditasinya masih C, sementara si Y kuliah di kampus yang akreditasinya A. Namun, ketika keduanya lulus ternyata akreditasi masing-masing kampus adalah A, maka tentu kita sepakat bahwa X merasa lebih puas dengan kuliahnya.  Dia bangga telah melakukan banyak hal positif selama kuliah sehingga akreditasi kampusnya meningkat. Kenangan-kenangan selama kuliah tentu akan mempengaruhi mental dia setelah lulus. Hal positif yang pernah dia lakukan selama kuliah memotivasinya untuk berbuat positif lagi dimanapun dia berada. Sarjana seperti ini, insyaAllah tidak akan menganggur, dimanapun dia bisa berbuat dan berkarya.

---udah ah, tulisan ini jadi gak jelas arahnya dan akan berakhir dimana. Untuk selanjutnya silahkan teman-teman comment, berikan solusi atas masalah-masalah di atas. Kita sharing bareng, comment direply, reply direply, dst… baru kita lakukan action!!


==================================================

    • Liana Aisyah Bagus sekali, Mas Sudarlin. Jadi bahan renungan buat semua. Semoga jadi tambah semangat

    • Liana Aisyah Bagaimana caranya agar saya bisa men-tag beberapa dosen lain untuk note ini?

    • Shaheer Zawani Rusydi yupz. ats nm angktan 2007. insyaallah sy dn tman2 siap utk brsaha mwjudkan impian di atas td,,hehehhe

    • Salman At-tlutufi
      bgus bngt mas..,,mga bsa bwt mtifasi tmen2...
      Nd q usul,gmn lo d bwt ja frum dskusi lwt jjring ssial(spt group fb)lintas smwa angktan,kn bsa bwt mdia dskusi nd mechin ms'lh tnp trbts jrak nd wkt..
      Nd qt(kim'10)jg dh mmke mdia spt ne,nd tu ckup efktf wat ngakrapin nd diskusi to ngobrol(lwt chat grup),smbl cri tgas2 kul..wlpun ngbrol nx bru tntang tugas2 yg ahire nglantur..hehee..tp dr tu qt bsa akrb ngmong tnpa malu2..thnx..

    • Sudarlin Laoddang ‎@Ibu Liana: bisa Bu, tp tidak dgn tag, karena untuk tag maksimal 30 org. Cara lain, klik tap "Share", kemudian pilih "Send as a Message instead", selanjutnya ketikkan nama tujuan.
      Makasih ya Bu..


    • Sudarlin Laoddang ‎@ Mas Rusdi: Mas, aq kerepotan ngurusin yg IKASUKA-KIMIA, tolong ya...
      @ Mas Salman: Sering2 diskusi ma kakak kelas juga ya, kalo gak aktifitas, ngumpul di ruang diskusi lab aja. Btw, sebearnya dulu ada milis mahasiswa kimia, tp gak efektif krngak realtime. Sy rasa kalo ngumpul diskusi di lab sambil belajar kelompok atw cuma main lebih efektif deh mas..., ok semangat ya..


    • Endaruji Sedyadi
      Seeeppp.... untuk mencapai popularitas itu, semua civitas akademika UIN Suka Yogyakarta harus ikut berperan seperti layaknya tim F1. Tim pemenang bukanlah tim dengan mesin tercanggih atau pembalap paling berpengalaman.... Tim pemenang adalah tim dengan kekompakan dan kedisiplinan tertinggi.... Mari kita bangun UIN Suka Yogyakarta ini menjadi Universitas yang lulusannya mampu bersaing dengan lulusan dari Universitas manapun.... :)

    • Tri Hanifawati tulisan yang menarik :).jika boleh saya menambahkan satu alasan lagi mengapa akademik UIN tdk berkembang karena kultur kampus sangat politis, sehingga sebagian besar mahasiswa terjebak dalam kultur ini. saya rasakan betul ketika masih di kampus. dan uniknya ini tidak cuma terjadi di UIN Sunan Kalijaga namun terjadi di hampir semua PTAI di Indonesia (berdasarkan hasil sharing dengan kampus2 PTAI di MITI-mahasiswa).

    • Sudarlin Laoddang
      ‎@ Pak Endar: Iya pak, mumpung kita smw masih muda, smnagt, pikiran dan kekuatanny masih luas biasa untk berbuat.., moment 7 tahun (khas pak Utoro), saatny gebrakan luar biasa kita wujudkan
      Thx pak atas nasehat dan spiritny
      @Mba Tri: Sebena...rnya mahasiswa yg baru masuk kampus tidak ingin terjebak sprti itu, tp sayangny ketika mereka masuk kampus ini mereka justru "disambut" oleh organisasi2 politik kampus, semntara wadah ilmiah yg sebenarnya mereka cari tidak mereka temukan. JAdilah mereka, daripada gak berorganiasi mending gabung ke sini aja ah.., dan akhirnya doktrin politik merasuki mereka
      Peran kakak kelas yang harus menyambut dan mempersiapkan kegiatan bermanfaat bwt mereka ditunggu untuk mengatasi masalah ini.. Thx Mba atas sarannya..

    • Tri Hanifawati
      saya ingin sedikit berbagi tentang beberapa kampus yang "populer" mengapa mereka bisa dikenal oleh masyarakat. selain karena mahasiswanya berprestasi juga karena kampus dan mahasiswa ada kontribusi langsung ke masyarakat. jumat kemarin saya... baru saja audiensi dengan DPDR Gunungkidul, membersamai perwakilan BEM KM UGM, GC UGM dan CES UNY. tujuan kami kesana adalah untuk menginisiasi kegiatan comdev berbasis TTG (teknologi tepat guna) di GK. kegiatan seperti ini selalu jadi pilot project mereka. bahkan BEM-pun turut menginisiasi. luar biasa bukan, coba kita bandingkan dengan aktivitas-nya BEM di UIN, ada tdk yang berkontribusi sampai sejauh itu? Mahasiswa punya hasil riset, kemudian mereka mengaplikasikannya di masyarakat dengen bekerjasama dengan pemda setempat. dan ini tidak sulit, kita hanya butuh jaringan, dan jaringan itu bisa kita buka. dan benar seperti yang Sudarlin, mereka (mahasiswa yang saya dampingi kemarin di GK) bukan mahasiswa yang pinter2 amat ko. IPK mereka biasa aja gak ada yang cumlaude. motivasi mereka adalah karya. saya mendambakan ini di UIN sejak lama. btw saya kira butuh penyadaran untuk memulai ini di UIN. Alhamdulillah saya punya tim RCDC (Reseach and Community Develomment Center) di DIY. salah satu kegiatannya adalah mengadakan pelatihan riset dan comdev berbasis TTG utk mahasiswa seperti yang dilakukan di Turi beberapa bulan lalu. saat itu ada juga mahasiswa Kimia bersama pak didik hadir. saya juga sudah mencoba dengan dibantu teman2 di UGM membentuk cluster riset di FKIST namun sampai sekarang tdk ada progress yang berarti :(. so, jika teman2 di Kimia UIN bisa meluangkan menyediakan space waktu, saya dan tim RCDC Inysa Allah bisa membantu utk pengembangan riset terutama di Kimia. Insya Allah. saya tunggu kabar baiknya yah :). Darlin, terimakasih sudah menginspirasi :)

    • Sudarlin Laoddang
      Ok Mba, kmarin kami (saya, habib, dan teman dari UNY) mengadakan sharing dg FKIST (Ari Mami-085225026130), hasilny mereka akan audiensi dgn dekan. Kami sarankan mereka didampingi dan dibantu oleh alumni, mdh2an Mba Tri bisa.
      Selain itu akan... dibentuk sekolah riset di Saintek (bantuan RCDC dibutuhkan, insyaAllah). Wadah dan kegiatan ini sangat penting but fakultas. Kemarin aja mhasisawa kimia yg "cuma" juara II LTIM Jogja sampe dibuatin spanduk slamat dpan kampus, bahkan penyerahan pialanya dpan ortu mahasiswa saat pelpasan wisuda. Ini bukti bahwa pihak fakultas sangat butuh mahasiswany berprstai agar mereka (fakultas) bisa memperliahtkan sesuatu (baca: pamer)

    • Tri Hanifawati ok. menarik itu tentang sekolah riset di Saintek. Insya Allah bisa bekerjasama dengan RCDC. tadi saya sudah bicarakan tawaran ini dengan koordinator RCDC, dan tawarannya telah disambut baik :). Artinya RCDC siap membantu UIN untuk pengembangan risetnya. Nanti saya coba hubungi Ari Mami untuk bicarakan hal ini. sekalian konsepnya saya ingin tahu seperti apa.

    • Alexandria Kairo semoga Allah mengabulkan semua yg qt rencanakan.  Amin...

    • Alexandria Kairo dan tulisan di atas merupkn mimpi yg terpendam dri seorang maestro kimia UIN Suka,..yg ingin kimia UIN menjdi sebuah pduan orkestra yg bisa dinikmti alunnya olh siap saja.dan itu patut diapresiasikan dlm kegiatn/grkn lintas gnerasi utk mewujudkannya.semoga terwujud apa yg dicita-citakan sang maestro dn merpkn cita2 qt bersama.SEMANGAT.

    • Sudarlin Laoddang bukan hanya mimpi sang maestro tapi mimpi semua pemain orkestra itu, ingin rasanya mereka bersusun memainkan alunan musik yg didengar oleh banyak telinga..., mimpi itu tidak lg terpendam

    • Sudarlin Laoddang Thx mas, pkim sudah berusia 13 tahun, dan kim 7 tahun, tp akreditasi kita masih C.., kini saatny mahasiswa harus melakukan sesuatu agar mereka lulus dgn jalan yg terang...

    • Atiek Setyowati setuju..sudah saatnya saintek bangkit dan jangan mau kalah dgn univ lain...tp persaingan smkin ketat juga nih...

    • Ari Mami Q UIN-ku..
      *menghela nafas, OPTIMIS!


    • Imam Samsudin semoga tema skripsiku nanti menjadi inspirasi para penerus, temenya kimia komputasi dengan pragram bikin ndiri mohon bantuannya ya

    • Ari Mami Q OK, mbak Tri, mas Darlin!
      FKIST --sebagai WADAH RISET di Fakultas Saintek-- butuh perhatian alumni seperti KALIAN . Umur FKIST baru 2,5 tahun lho...
      @Bu Liana: mohon bimbingannya..


    • Sudarlin Laoddang di malaysia ada Universitas Islam Internasional, salah satu misiny adalah menjadikan Malaysia sbg pusat halal dunia,
      satu hal yg membuatku iri, knp harus malaysia lg??


    • Imam Samsudin karena INDO terlalu tercemar makanya mencari sesuatu yg 100% halal sangat sulit mungkin cuma 1 : 1000xxxx

    • Rifai Nugroho bagus bgt mas tulisannya,mas saya punya ide tentang ampas tahu yang dikeloloh menjadi natadecoco,gmn tanggapannya mas?

      atau permurnian air sabun tp dengan cara pa ku blm menemukan?tlg di tanggapi trims


    • Sudarlin Laoddang kalo tahu, udah ada nata de soya

      kayakny lebih bagus yg ide nomor 2, skrg ini kita bisa pake lempung


    • Rifai Nugroho ow bgt to?caranya gmn?????sip

    • Hinung Amrul · Friends with Nur Hanifa and 7 others
      Mas ijin copas ke blog ya?
Blog, Updated at: 12:08 AM

0 komentar:

Post a Comment

close