Kasus HAM Panglima Militer kubu Jokowi vs Prabowo, Siapa yang Parah?

Posted By Darlin on May 22, 2014 | 10:57 PM

Militer punya jasa yang sangat besar bagi negeri kita. Tapi bagaimanapun juga, mereka hanyalah manusia biasa yang kadang salah. Salah satu contoh yang sering dibahas adalah pelanggaran HAM yang tercatat beberapa kali.

Mari kita runut satu persatu:

█ 1. Tanjung Priok Berdarah 1984 (korban 24 jiwa)

"Setelah sampai di depan Polres, kira-kia 200 meter jaraknya, di situ sudah dihadang oleh pasukan ABRI berpakaian perang dalam posisi pagar betis dengan senjata otomatis di tangan. Sesampainya jamaah pengajian ke tempat itu, terdengar militer itu berteriak, “Mundur-mundur!” Teriakan “mundur-mundur” itu disambut oleh jamaah dengan pekik, “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Saat itu militer mundur dua langkah, lalu memuntahkan senjata-senjata otomatis dengan sasaran para jamaah pengajian yang berada di hadapan mereka, selama kurang lebih tiga puluh menit. Jamaah pengajian lalu bergelimpangan sambil menjerit histeris; beratus-ratus umat Islam jatuh" (Buku Tanjung Priok Berdarah, Tanggungjawab Siapa: Kumpulan Fakta dan Data, Yogyakarta: Gema Insani Press)

█ 2. Kasus Talangsari 1989 (korban 47 jiwa)

"Komandan Korem (Danrem) 043 Garuda Hitam Lampung mengambil tindakan terhadap kelompok Warsidi. Sehingga pada 7 Februari 1989, 3 peleton tentara dan sekitar 40 anggota Brimob menyerbu ke Cihideung, pusat gerakan. Menjelang subuh keadaan sudah dikuasai oleh ABRI.
Menurut data Kontras 47 korban dapat diidentifikasi jenazahnya, dan 88 lainnya dinyatakan hilang" (Buku Talangsari 1989, Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Peristiwa Lampung).

█ 3. Kasus Tragedi Biak 1998

"Kasus Biak Berdarah yang terjadi tanggal 6 Juli 1998 adalah tragedi kemanusiaan yang masih segar dalam ingatan kami. Tragedi kemanusiaan ini bermula ketika kami orang Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora di menara air setinggi 35 meter dekat pelabuhan laut Biak. Tiba-tiba kami dikepung, dianiaya, dan ditembak secara membabi buta oleh anak-anak buahmu. Dan saat itu kami tahu bahwa anda menjabat sebagai Panglima TNI (Naftali Edoway)"

█ 4. Penculikan aktivis 1997 dan kerusuhan 1998

"Dalam penculikan ini, setidaknya tiga belas orang dikabarkan hilang, termasuk di antaranya aktivis Herman Hendrawan, Petrus Bima, dan seniman teater rakyat Widji Thukul. Penculikan ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu menjelang pemilu Mei 1997, menjelang pelaksanaan sidang MPR pada bulan Maret 1998, serta tepat menjelang pengunduran diri Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998."

"Diakuinya sendiri, ia hanya memerintahkan Tim Mawar untuk menculik sembilan orang aktivis yang kesemuanya sudah dilepaskan kembali. Mereka adalah Desmond Junaidi Mahesa, Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Faisol Reza, Rahardjo Walujo Djati, Nezar Patria, Aan Rusdianto, dan Mugianto dan Andi Arief. Kabar terakhir, beberapa dari mereka ini bergabung dalam partai yang sama." (selamatkanindonesia.com)

█ 5. Kasus Timor-Timur 1999 (ribuan mengungsi)

"dalam berbagai dokumen penyelidikan kasus Timor Timur 1999, baik yang dilakukan oleh Komnas HAM maupun Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) Indonesia-Timor Leste, jelas ... merupakan orang yang harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya dalam kejahatan kemanusiaan itu" (Setara Institute)

█ 6. Kasus Aceh 2003

"Ada beberapa kesimpulan dari kajian tim ini. Antara lain, selama konflik bersenjata di Aceh, kedua belah pihak telah melakukan tindakan yang mengakibatkan terjadinya korban penduduk sipil. Karenanya disimpulkan, adanya dugaan kuat terjadinya berbagai bentuk pelanggaran HAM. Tim ini juga menyampaikan beberapa rekomendasi kepada sidang Paripurna Komnas HAM, antara lain untuk menindak lanjuti laporan kajian kekerasan di Aceh (koalisi-ham.org)"

Nah, sekarang silakan tanyakan ke orang-orang, baca di buku, atau searching di internet, siapa panglima militer yang terlibat dalam kasus-kasus tersebut.

Beberapa nama yang mungkin anda temukan adalah L.B.Moerdani, Hendropriyono, Wiranto, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo. Nama pertama dan nama terakhir adalah dua panglima yang dikenal perseteruannya. Yang pertama dikenal sbg panglima Merah, sementara yang terakhir dikenal sbg panglima Hijau.

Dalam perkembangannnya, pengamat sejarah menempatkan Hendropriyono, LB Panjaitan, dan Ryamizard Ryacudu dalam barisan Panglima Merah.

Kesimpulan uniknya, dalam pilpres 2014, kumpulan jendral panglima merah adalah pendukung utama Kubu Jokowi. 

Jadi siapa yang lebih parah?
Blog, Updated at: 10:57 PM

0 komentar:

Post a Comment

close