Apr 7, 2014

Nasehat Ikhlas dari Reaksi Iodisasi Aseton

Pada mata kuliah Kinetika Kimia, kami belajar mengenai reaksi iodisasi aseton. Reaksi ini ditandai dengan perubahan warna larutan dari orange menjadi bening. Reaksi dimulai saat I₂ mengiodisasi aseton menjadi aseton-I, sehingga semakin lama jumlah I₂ berkurang lalu habis. Karena I₂ berwarna orange sementara aseton-I dan I⁻ tidak berwarna, maka lama kelamaan larutan menjadi bening.

I₂ + aseton --> aseton-I + I⁻
(warna orange) --> (warna bening)


Jika kita diminta menghitung waktu yang dibutuhkan untuk selesainya reaksi atau laju reaksinya, kita cukup menghitung waktu yang dibutuhkan hingga larutan menjadi bening.

Sekilas, kita mungkin saja menduga, waktu atau laju reaksi tersebut ditentukan oleh I₂, karena dialah yang berubah warna dari I₂ menjadi I⁻.

Tapi ternyata tidak, hasil perhitungan secara matematis sebagaimana tercantum dalam textbook dan jurnal serta data eksprimen di lab menunjukkan hukum lajunya sesuai persamaan berikut:

r = k[aseton]¹[H⁺]¹[I₂]⁰

Persamaan ini menunjukkan orde reaksi untuk I₂ adalah orde nol, artinya konsentrasi I₂ tidak mempengaruhi laju reaksi. Justru aseton dan H⁺ (yang tidak terlihat selama reaksi karena warnanya bening), malah menjadi faktor penentu laju.

Inilah pesan moral reaksi ini, bahwa seseorang yang menjadi faktor penentu dalam suatu perubahan, seseorang yang menjadi sebab selesainya suatu pekerjaan, terkadang adalah seseorang yang tidak terlihat. Seseorang yang tersembunyi, yang bekerja dengan diamnya. Yang selalu memastikan kerjaan selesai, tanpa berpikir akan dipuji atau tidak.

Maka nasehatnya adalah, jangan sampai kita seperti I₂ dalam reaksi di atas, banyak tampilnya tapi sedikit kerjanya (bahkan sebenarnya tidak ada). Dan jangan pula, kita mudah memvonis seseorang, hanya karena diam dan tidak terlihat, lalu kita menuduhnya tidak bekerja.

***

Jangan khawatir, semua kebaikan, sekecil apapun itu, suatu saat dia akan tampak juga, tampak dengan cara yang lebih elegan. Lihatlah reaksi di atas. Bukankah sekarang kita telah tahu, siapa sebenarnya yang menentukan laju reaksinya. Dan itu kita tahu, setelah kita belajar, setelah kita memahami, dan setelah kita mengilmuinya. 

Dan sungguh, jauh lebih elegan mendapat pujian dari seseorang yang berilmu. Biarlah sedikit, tapi bernilai. Daripada banyak, tapi dari orang yang tidak berilmu.

*** 

Pun, jika ternyata orang berilmu di dunia ini tidak mampu mengetahui hakikat yang sebenarnya. Diam saja. Tunggu saja. Kelak yang Maha Berilmu pasti akan memuji dan memberi surganya, untukmu.

Share:

0 komentar:

Post a Comment