Ilmuwan, Mari Berlapang Dada

Posted By Darlin on Feb 29, 2016 | 11:52 PM

Jika ilmu dianggap sebagai produk, maka ilmuwan adalah orang yang menghasilkan, menyebarkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Definisi ini menunjukkan bahwa ilmuwan bukan hanya bekerja sebelum produknya terbentuk, tapi juga setelah produknya terbentuk. Ibaratnya, ilmuwan bukan hanya sebagai mesin yang menghasilkan produk, tapi juga sebagai tenaga marketing yang harus memasarkan produknya. Bahkan lebih dari itu, ilmuwan juga berperan sebagai customer service yang siap menerima keluhan jika produknya bermasalah. Jadi sederhananya, ilmuwan adalah pelaku tunggal dalam industri ilmu pengetahuan.

Pada dunia industri, proses produksi umumnya mengandalkan mesin. Jika mesin salah melakukan tugasnya, maka proses produksi dapat diulangi. Mesin tidak akan tersinggung hanya karena disuruh mengulangi pekerjaannya. Paling mungkin, mesin hanya akan sedikit “stress” sehingga perlu istirahat. Berbeda dengan proses marketing atau customer service. Proses ini melibatkan hati yang punya rasa. Hati yang terkadang galau jika ada produk yang lebih baik atau sedih dan patah jika ditolak.

Seperti itulah jalan hidup seorang ilmuwan. Saat masih proses penelitian, semua dikerjakan dengan senang hati. Jika ada proses kerja yang salah, maka dengan senang hati akan diperbaiki. Ilmuwan tidak akan putus asa hanya karena kesalahan yang dilakukannya. Hatinya tetap tenang dan sabar mengulangi dan memperbaiki hingga penelitiannya selesai. Tapi lain ceritanya, saat hasil penelitiannya sudah jadi. Saat hasil penelitian itu dipublikasikan, tapi ternyata tidak direspon oleh masyarakat. Masyarakat belum siap dengan hasil penelitiannya, bahkan menganggapnya aneh, lain dari yang sudah baku. Pada kondisi seperti ini, seorang ilmuwan harus kuat dan sabar.

Ilmuwan tidak boleh mundur hanya karena masyarakat belum siap dengan konsep baru yang ia tawarkan. Dia harus sadar bahwa setiap yang baru butuh proses untuk diterima. Dengan cara seperti itu, seorang ilmuwan akan berusaha mengembangkan penelitiannya hingga bisa diterima sebagai ilmu pengetahuan baru menggantikan ilmu pengetahuan yang lama.

Demikian halnya, jika hasil penelitiannya telah “usang” tergantikan oleh penelitian yang lebih mutakhir. Seorang ilmuwan harus lapang dada menerimanya. Bahkan, seorang ilmuwan harus mendukung temuan yang lebih baru jika memang teruji lebih ilmiah. Sikap ini harus dimiliki oleh setiap ilmuwan karena ilmu yang dihasilkannya bukanlah produk yang selalu mutlak benar. Bisa jadi produknya dianggap benar hari ini, tapi dianggap keliru pada hari selanjutnya.

Hal ini, karena ilmu terus berkembang seiring dengan peradaban manusia. Sesuatu yang dianggap benar pada hari ini, bisa dianggap keliru pada hari selanjutnya karena ada metode dan instrumen yang lebih canggih. Hal ini seharusnya dipahami oleh setiap ilmuwan sehingga koreksi atas ilmu yang lama tidak menjadi persoalan apalagi menjadi penghambat dalam penelitiannya.

Kondisi semacam ini telah dialami oleh banyak ilmuwan pendahulu. Kita mengenal Sir Isaac Newton yang konsep mekanikanya dikoreksi oleh Einstein. Bahkan dengan lapang dada, Isaac Newton pasrah saat konsepnya cukup disebut sebagai konsep klasik. Demikian halnya dengan John Dalton, ilmuwan pertama yang memperkenalkan konsep atom modern. Tapi pada akhirnya, konsep atom Dalton ditinggalkan dan cukup menjadi sejarah yang diajarkan ke siswa SMA.

Tentu nilai kebanggaan mereka berkurang. Seakan-akan ilmuwan belakangan lebih cerdas dari mereka sehingga bisa menemukan konsep yang lebih akurat. Padahal sebenarnya tidak, justru ilmuwan pendahulu lebih besar jasanya. Merekalah yang membuka pintu misteri alam sehingga menjadi jalan masuk bagi para ilmuwan belakangan. Jika pintu tidak dibuka, tentu ilmuwan belakangan tidak bisa masuk.

Hal ini senada dengan ungkapan Max Gluckman (1965), seorang antropolog yang mengatakan "A science is any discipline in which the fool of this generation can go beyond the point reached by the genius of the last generation”. Artinya ilmu pengetahuan yang ditemukan oleh para ilmuwan, seperti ilmu sains menjadikan generasi sekarang lebih mudah memahami fenomena alam tanpa harus melakukan proses penelitian terlebih dahulu. Generasi sekarang cukup membaca referensi yang telah ditulis oleh para ilmuwan pendahulu sehingga apa yang mereka ketahui dengan mudah diketahui juga oleh generasi sekarang.

Karena itu, benar ungkapan Ernest Renan, seorang filsuf Perancis yang mengatakan “Sekarang anak sekolah paling bodoh pun dengan gampangnya bisa mengetahui kebenaran-kebenaran yang dulu dicari-cari dengan penuh jerih payah dan berbagai pengorbanan oleh para cendekiawan”. Sebagai contoh, anak TK jaman sekarang yang berumur 4-6 tahun sudah tahu bahwa bumi itu bentuknya bulat, sementara Galileo baru mengetahuinya pada saat berumur 67 tahun.

Sebagai ilmuwan, Galileo harus menerima kenyataan ini, bahwa anak TK sekarang lebih banyak ilmunya dibandingkan dengan dirinya. Penerimaan seperti ini butuh hati yang lapang.
Blog, Updated at: 11:52 PM

0 komentar:

Post a Comment

close