Asisten Praktikum, bagaimana seharusnya..?

Posted By Darlin on Mar 19, 2012 | 12:38 AM

Kalo gak salah, praktikum baru dimulai kan?, he.., mdh2an aku gak telat, jadi tulisan ini bisa nyambung bwt sharing tentang asisten praktikum. Kebetulan aku punya byk pengalaman yang bisa dishare. Mirip pesan-kesan aq waktu dulu jadi asisten praktikum...., aq ingin berbagi enak-jeleknya jadi asisten praktikum serta tips untuk memaksimalkan enaknya dan meminimalkan jeleknya itu, yg denganny mudah2an teman2 bisa menjalani indahny peran sbg asisten praktikum ..., demikian kira2 maksud tulisan ini...

Hmm.., biar gak kepanjangan langsung mulai aja ya..., mdh2an ada manfaatnya...^^

Kita awali dengan..... 
Enaknya jadi asisten praktikum:
  1. keren dan membanggakan..., bisa mendampingi praktikan, ngajari dan jadi panutan bwt mereka, kadang juga bisa nyuruh-nyuruh, galakin, dan marahin mereka..,
  2. bisa belajar banyak hal..., belajar bertanggungjawab, belajar lebih peka dan bijaksana, belajar mengendalikan emosi, dan belajar senyum ^^ (manfaat terbesar yg aku rasakan),
  3. bisa juga bwt berlatih...., cara mengajar dan sharing  ilmu, mengembangkan potensi diri, menjadi lebih bermanfaat dan percaya diri,
  4. dan yg paling menyenangkan adalah..., punya penghasilan tambahan, ratusan ribu per praktikum hingga sejuta per semester, lumayan bwt beli hape dan ongkos penelitian, he...

tp jangan kaget ya, karena ternyata jeleknya lebih banyak...
Jeleknya jadi asisten praktikum:
  1. tugasnya seabrek..., nungguin praktikum berjam-jam, harus nerangin ini itu, belum lagi ngoreksi laporan, bikin soal, ngawas ujian, rekap nilai, dan tugas-tugas lain yang bikin repot!!!
  2. tertindas..., kadang kita jadi sasaran protes praktikan, padahal kita gak tahu apa-apa, sering lagi protesnya gak sopan dengan kata-kata yg kasar.. :(
  3. apalagi kalo praktikannya teman/kakak angkatan..., seringny kita dianggap cuma teman kelasny, bukan asisten praktikumny, so sikapnya jadi  kurang hormat, kerjany asal-asalan, laporan seadanya, tapi mau nilai yang bagus....>"<
  4. simalakama..., jadi serba salah, kadang benar oleh aturan tapi salah oleh keadaan, atau sebaliknya salah oleh aturan tapi benar oleh keadaan. Misal, kita benar oleh aturan kalo “ngusir” praktikan yang datang terlambat, tapi bisa saja salah oleh praktikan; dianggap kejam dan tak berhatinurani… atw sebaliknya kita salah oleh aturan kalo “ngobral” nilai, tapi bisa saja benar oleh praktikan; dianggap baik hati dan ngertiin...
  5. ujian batin…., misal kalo ada praktikan yang datang terlambat, tugas tidak selesai, peralatan tidak lengkap, atau melakukan kesalahan lainnya, biasanya dia ingin “main mata”, berharap kita diam saja agar laboran atau koordinator praktikum tidak mem-proses-nya...

itu yg bisa aku sebutin, mungkin masih ada yg lain..., ditambahin aja ya.., meski sebenarnya point penting tulisan ini bukanlah itu, tp yg berikut ini:

Cara memaksimalkan ”enaknya”  dan meminimalkan ”jeleknya”

(btw, aku mulai pake bahasa serius…)

Enak dan jeleknya jadi asisten praktikum sbgmn disebutkan di atas bersifat mutlak, hampir pasti selalu ada dan tidak mungkin dihilangkan. Jadi yang bisa kita maksimalkan dan minimalkan adalah efeknya, bgmn enaknya bisa menjaga semangat kita, dan jeleknya tidak melemahkan motivasi kita. Beberapa prinsip yang harus kita pahami untuk mencapai tujuan tersebut adalah…

1.       Praktikan masuk lab untuk belajar bukan untuk diuji !!! -- (tanda seru ini berarti tegas)
--- Praktikum adalah kegiatan ilmiah, sarana belajar untuk melakukan dan memahami sesuatu. Ada ilmu yang harus dikuasai sebelum melakukannya dan ada ilmu yang harus diperoleh setelah melakukannya. Ini bersifat mutlak, karena praktikum dianggap berhasil jika praktikan memperoleh ilmu dan keterampilan tambahan yang bermanfaat. Jika tidak, maka praktikum tersebut hanyalah formalitas yang sia-sia tanpa manfaat. Oleh karena itu, asisten praktikum sbg pendamping praktikan harus memiliki ilmu dan keterampilan yang siap dishare, baik sebelum, saat, atau setelah praktikum.
--- Saat praktikum, praktikan mestinya diajak berdiskusi mengenai konsep yang dibutuhkan. Misal, jika praktikum menggunakan pelarut petroleum eter untuk mengekstraksi suatu senyawa alam, maka asisten yg baik mengajak praktikannya berdiskusi: kenapa harus menggunakan pelarut tsb?, mungkinkah diganti dengan pelarut yang lain?, kenapa suhu refluksnya dibatasi?, adakah metode ekstraksi yang lain?, dll.... Meski sebenarnya pertanyaan-pertanyaan semacam ini telah dipahami praktikan sebelum masuk lab sebagai syarat pretest – tapi terkadang beberapa praktikan masih keliru, sehingga perlu dikonfirmasi dan dikoreksi oleh asisten praktikum.
--- Selain itu, asisten praktikum sangat baik jika memberikan bahan diskusi yang jenius dan menarik bagi praktikan. Materinya berupa suplemen yang terkait sehingga membantu memahami konsep-konsep praktikum yang sedang dikerjakan. Misal, pada saat melakukan distilasi kondensasi, biasanya muncul embun pada dinding luar kondensor. Seorang asisten praktikum dpt bertanya kepada praktikanya, dari mana munculnya embun tersebut? Bagaimana prosesnya secara termodinamika? Bisa juga dgn pertanyaan tak terduga, misal: apakah pelarut petroluem eter memiliki hubungan dengan eter? Kenapa peralatan kimia, kebanyakan dari gelas? Kenapa fenol berfase padat pada suhu kamar? Kenapa titrasi asam-basa menghasilkan warna? Bagaimana warna itu bisa sampai ke mata?, dll.... Pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan praktikum, tapi menjadi ilmu yang bermanfaat bagi praktikan.
--- Diskusi ini tidak harus serius layaknya pretest, tapi dapat dengan obrolan santai sehingga tidak menganggu pekerjaan praktikan. Mereka tetap dapat bekerja sambil berpikir mencari jawaban. Diskusi ini tidak pula harus dijawab oleh semua praktikan, asisten praktikum dapat memilih praktikan yang kira-kira sudah tahu jawabannya, sehingga praktikan yang lain tidak malu jika ditunjuk tapi tidak bisa menjawab. Jika satu praktikan sudah menjawabnya maka praktikan yang lain pun akan menngerti. Substansinya, ilmu sampai ke praktikan.
--- Jika proses diskusi ini terjadi, maka praktikan akan merasa puas setelah mengikuti praktikum karena mendapat byk manfaat. Mereka akan semangat mengikuti praktikum bahkan mungkin merindukannya, merindukan diskusi yang menambah wawasan mereka. Dengannya pula mereka akan bersikap profesional ke asistennya sbg bentuk penghormatan. Asisten pun merasa “punya manfaat” yang dihargai sehingga lebih semangat belajar dan selalu siap berbagi ilmu.
--- Merupakan kekeliruan besar, jika asisten menganggap praktikum layaknya ujian, sehingga mereka memilih untuk “tutup mulut” dengan dalih: “biarkan praktikan berpikir sendiri!!”, ...... “biarkan praktikan nyari sendiri!!”,.......... “mereka kan harus mandiri!!”, dll.... Asisten tidak mau menjelaskan ini dan itu meskipun praktikan bertanya dengan memelas. Alhasil, karena tidak pernah memperoleh jawaban dari asistennya, kebanyakan praktikan enggan bertanya lagi, mereka memilih masa bodoh, ngerti gak ngerti jalan terus... Jadilah, praktikum hanya ramai dgn suara alat gelas yang beradu, pompa, atau canda tawa yang riuh..., bukan ramainya sharing ilmu antara asisten dan praktikannya.
--- Tentunya, metode belajar mandiri tetap harus diupayakan dan dijadikan prinsip bagi praktikan sehingga tidak semua konsep materi dan pertanyaan harus dijawab dan dijelaskan oleh asisten. Namun, belajar mandiri tsb bukan berarti membiarkan mereka menyimpulkan sendiri dan tidak memperoleh konfirmasi mengenai konsep yang benar. Harus diakui, kebanyakan kita tidak mampu memahami dengan benar penjelasan di buku atau referensi lainnya. Kalaupun bisa, kebanyakan kita masih menyimpannya dengan ragu kecuali setelah memperoleh konfirmasi langsung dari orang yang ahli. Inilah fungsi dosen dan asisten praktikum!!! -- (tanda seru lagi, udah tw kan maksudnya!!) 

2.       Tak kenal maka tak sayang!!
--- Prinsip kedua yang harus dijadikan pegangan bagi asisten praktikum saat mendampingi praktikannya adalah "memberi sesuai dengan kadarnya, tidak kurang – tidak lebih, pada waktu yang tepat, tempat yang tepat, orang yang tepat, bijaksana, serta asas manfaat". Ini hanya bisa dilakukan jika asisten peka, mengenal, dan memahami kondisi praktikannya.  Kita perjelas dengan contoh:
  • Model praktikan yang bisa belajar mandiri harus dibedakan dgn praktikan yang sulit belajar mandiri. Misal,  jika asisten bertanya ke praktikan, kadang ada praktikan yang mampu menjawab dengan benar, tapi kadang pula ada yang tidak mampu, padahal dua-duanya sudah belajar dengan porsi yg sama.
  • Model praktikan yang "asal bertanya" harus dibedakan dgn praktikan yang benar-benar butuh jawaban atas pertanyaanya. Misal, praktikan yang bertanya karena sok aktif..., berbeda dengan praktikan yang bertanya karena penasaran ingin tahu..., berbeda pula dengan praktikan yang bertanya krn persiapan responsi.., dan berbeda pula dengan praktikan yang sama sekali tidak bertanya karena ragu dgn keilmuan asistennya?? -- (tanda tanya ini, maksudnya nyindir!!)
  • Model praktikan yang malas karena memang malas harus dibedakan dgn praktikan yang malas karena sesuatu. Misal, praktikan yang ogah-ogahan saat praktikum atw tdk mengerjakan tugas, bahkan tidak melakukan persiapan apapun sebelum praktikum, mungkin karena dia sakit, punya masalah keluarga, punya masalah dgn pacar, jenuh, bosan, atau mungkin tidak suka dengan asistennya??  -- (nyindir lagi!!)
  • Model praktikan yang sengaja melakukan kesalahan harus dibedakan dgn praktikan yang sama sekali tidak sengaja melakukan kesalahan. Misal, praktikan yang datang terlambat yg sebabny diluar kontrolnya manusia, misal karena motor rusak, ketiduran, ada urusan mendadak, dll... berbeda dengan praktikan yang memang karena malas, teledor membagi waktu, masa bodoh, dll... 

--- Meski kasus-kasus di atas sering terjadi pada kondisi yang sama, tapi keputusanny harus disesuaikan dgn model praktikanny. Jika keputusannya adalah “punishment”, maka keputusan itu tidak menjatuhkan semangat praktikan, tp justru menjadikannya lebih semangat. Sebaliknya jika keputusannya adalah “reward”, maka keputusan ini tidak menjadikan praktikan puas, tp justru termotivasi lebih baik.
--- Selain itu, asisten praktikum dituntut pula mengenali materi yang bisa atau tidak  bisa dipahami oleh praktikan. Sangat sering terjadi, asisten praktikum tetap memaksa praktikan mencari jawaban suatu pertanyaan, padahal praktikan telah berpeluh keringat mencarinya hingga ujung dunia, tapi belum juga ketemu. Pada kondisi seperti ini, tidak semua jawaban untuk pertanyaan yang muncul di praktikum harus dicari sendiri oleh praktikan, tapi ada beberapa yang harus diberikan oleh asistennya. Asisten praktikum harus bijak dan mau memberikan jawaban karena praktikan benar-benar sangat butuh.... "Jika ilmu diberikan saat orang benar-benar butuh maka ilmu tersebut akan bertahan untuk waktu yang lama".
--- Saya mendengar cerita seorang dosen LN, yang jika dia mengawas ujian dan ditanya oleh peserta ujian, terkadang beliau memberi jawaban, tidak peduli saat itu ujian. Bagi beliau, substansinya adalah ilmu bisa tersampaikan, bisa dipahami, dan bisa tersimpan di otak mahasiswa yg psikologinya memang sangat tepat saat ujian . Tentu saya tidak menyarankan ini dilakukan saat teman-teman mengawas ujian responsi ^^, hanya contoh saja !!

3.       Nilai, jangan asal!!
--- Prinsip selanjutnya, nilai yang tinggi tidak selamanya memotivasi orang untuk lebih baik, demikian pula nilai yang rendah tidak selamanya menyadarkan orang untuk memperbaiki diri. Ada mahasiswa yg jadi malas belajar kalo nilainya terlalu bagus karena merasa gampang sehingga tidak tertantang. Sebaliknya, ada mahasiswa yg  justru semnagat belajar kalo nilainya jelek karena merasa ditantang. Simpelnya,  nilai bisa mempengaruhi psikologis mahasiswa.
--- Nilai tdk boleh hanya sebatas angka, tapi harus memiliki tujuan tersirat karena proses belajar belum berhenti meski nilai telah keluar. Upayakan nilai itu (entah tinggi atau rendah) memiliki efek positif bagi praktikan, sesuai karakter mereka. Lebih dari itu, nilai yang kita peroleh sekarang adalah nilai yang akan ditulis di ijazah saat kita lulus dan ijazah inilah yang akan digunakan untuk melamar kerja. Silakan teman-teman pikirkan point ini: "nilai yang kita peroleh saat semester awal bukan cerminan kemampuan kita saat lulus, karena selama menjalani semester selanjutnya, dengan sendirinya ilmu kita akan bertambah hingga lulus" (paham gak ya? ^^ )

4.       Ramah ^^, murah senyum :) , tidak kaku, dan berani bercanda :P
--- Saya merasa tidak layak membahas point ini karena saya yakin teman-teman lebih paham dan justru sayalah yg telah belajar dari kalian. Kecuali sedikit saja dari saya..., gunakan bahasa yg akrab, tidak harus kaku dgn bahasa Indonesia, pake bahasa Jawa juga boleh. Silakan kenalan terlebih dahulu, tanyakan nama panggilannya, asalnya kampung/kotanya, asal sekolahnya, kost’annya, atau obrolan-obrolan akrab lainnya.
--- Ajak praktikan sering-sering ke lab, meski tidak praktikum, ngobrol dan diskusi di ruang asisten, berbagi cerita dsb. Kenalkan mereka ke asisten-asisten yang lain, sambut mereka sebagai keluarga besar mahasiswa kimia-pendidikan kimia. Dapatkan senyuman mereka hingga kalian merasa saling menyayangi adik-kakak.
--- Upayakan mereka tidak hanya menganggap kalian sebagai asisten paktikum, tapi juga sebagai kakak yang bisa didengar nasehat dan arahannya. Berikan mereka tips belajar yang baik, kuliah yang berprestasi, informasi yang bermanfaat, serta semangat dan kebanggan sebagai mahasiswa kim-pkim. Kalo perlu ajak mereka gabung dengan kegiatan-kegiatan kalian, entah di kampus atau di kost’an, meski hanya main game atau futsal. Jika ini dilakukan dengan baik, niscaya kalian saling menginginkan kebaikan, protes dan kritik, insyaAllah tulus untuk memperbaiki.

5.       Asisten harus kompak dan satu suara!!!
--- Ini yang terakhir...., sesama asisten harus kompak, saling menghargai, dan profesional. Kita tidak ingin ada asisten yang bersikap lunak agar bisa dekat dengan praktikan, sementara asisten yang lain konsisten bersikap tegas. Misal, jika praktikan melakukan kesalahan, maka siapapun asisten yang menghadapinya, hukum dan konsekuensi tetap sama sesuai aturan yang disepakati.
--- Sikap lunak justru dapat dapat merusak wibawa dan integritas asisten di mata praktikan. Jangan sampai asisten favorit dipilih karena sikap lunaknya, dan asisten kejam dipilih karena sikap tegasnya.
Demikian pula dengan laboran dan koordinator praktikum, bahkan idealnya asisten praktikum harus lebih tegas dan “galak” dibanding dengan mereka ini. Bukan untuk lebih eksis, tapi untuk menjadikan praktikan selalu merasa diawasi, karena hakikatnya asisten lebih dekat kel praktikan..


*) maaf ya, kalo beberapa bagian terkesan lebay..., dikritisi aja biar bisa sharing...
Blog, Updated at: 12:38 AM

0 komentar:

Post a Comment

close